Ketika Ilmuan Memprediksi Masa Pandemi COVID-19

Berapa banyak yang positif? Berapa lama pula masa pandemi ini akan berakhir? Dua pertanyaan klasik yang diutarakan oleh para ilmuwan dalam menghadapi kejadian luar biasa pandemi COVID-19. Berbagai model diangkat, berbagai metode digulirkan, berbagai hasil dipaparkan dalam banyak macam media. Ada yang bilang ribuan saja, puluhan ribu, hingga ratusan ribu masing-masing punya masa yang berbeda-beda. Mungkin khalayak bertanya, karya siapa gerangan yang dapat dengan tepat memprediksi kejadian ini?

Mungkin untuk saat ini tidak satupun ilmuwan yang mau mengacungkan jarinya untuk mengklaim karyanya yang terbaik. Bukan lempar batu sembunyi tangan, gigih dan gagahnya para ilmuan dalam memprediksi kejadian ini sungguh luar biasa. Membangun persamaan matematika dengan kejadian yang masih belum usai belalu bukan perkara yang enteng. Belum juga bertemu dengan para pembaca yang hanya dibekali dua pilihan keilmuan, yang ini benar dan yang itu salah tanpa memikirkan proses benar dan salah atas keilmuannya. Model matematika dan statistika secara khusus, dibangun untuk membawa kejadian real dalam bentuk persamaan matematika.

Banyak tujuan berarti dalam setiap model yang dibangun. Khusus model-model yang diangkat selama pandemi COVID-19 seperti model-model regresi, stokastik, differensial, dan lainnya pada hakikatnya hanya ingin memprediksikan apa yang akan kita hadapi kedepan. Prevensi berdasar dibutuhkan untuk membendung kejadian-kejadian yang tidak diinginkan di masa yang akan datang. Bukan lancang mendahului takdir Sang Khalik, karena ilmuwan juga tahu sendi batas kelimuannya. Sedikit pandangan menarik dikemukakan oleh George E. P. Box seorang pemikir besar dibidang statistik dan digunakan model-model ilmiah pada umummnya bahwa “All models are wrong, but some are useful”. Berdasarkan aforisme tersebut sekiranya dapat dipahami bahwa model yang dibangun hanyalah bentuk perkiraan atas kejadian yang dimodelkan. Tidak ada model yang benar-benar tepat dan tegas menunjukkan kebenaran atas suatu. Namun demikan, adanya usaha dan upaya dalam menyusun metodologi, baik gagasan, asumsi-asumsi, dan ukuran kebaikan model sekiranya dapat meningkatkan keabsahan model sehingga dapat berguna. Yang jelas dari seluruh karya para ilmuwan khususnya pemodelan COVID-19 baik secara tersirat ataupun tersurat menyatakan bahwa harus ada tindakan preventif untuk mengurangi penyebaran.

Dikala gonjang-ganjing pemberitaan media masa terkait jumlah pasien yang kian membludak. Belum lagi, kebijakan-kebijakan yang dianggap simpang siur, tidak konsisten, tidak punya arah yang tegas dan jelas bagaimana cara mengambil sikap serta pasang badan dalam menanggulangi kondisi ini. Rakyat tentu turut gaduh, geram, resah, bingung, atau mulai bosan dengan kondisi yang makin ambigu. Tindakan dan cara preventif yang sejak awal digaungkan hingga hatam diluar kepala, bisa jadi akan pupus karena beda kepala beda pula tafsirnya. Mencari kesalahan bukan obat mujarab untuk menyembuhkan semua yang terluka karena pandemi ini.

Tidak ada yang patut disalahkan, karena setiap insan dibekali akal untuk dapat memutuskan sikapnya. Benar salahnya sudah barang tentu ada dalam arti masing-masing. Namun demikian, jika algoritma yang berisi langkah taktis sudah tidak berjalan, cobalah jalankan rasa. Semua hanyalah masalah ego dan waktu. Semakin kuat ego kita untuk melanggar, makin besar peluang untuk terinfeksi dan menginfeksi. Kondisi normal yang diharapkan seperti sediakala kemungkinan tidak akan terjadi. Virus ini jelas merubah wajah dunia. Banyak opsi ditawarkan dalam menghadapi masa pandemi ini. Memaksimalkan atau berinovasi dengan teknologi komunikasi adalah contoh tindakan positif yang bisa dilakukan sembari menunggu hingga vaksin ditemukan. Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan pilihan utama, mengigat beberapa sektor di bidang produksi, konsumsi, bahkan jasa yang belum mampu digantikan oleh teknologi. Memang mutlak adanya, pergerakan jadi syarat kedihupan. Maka dari itu, amatlah penting untuk membuat langkah-langkah cerdas dalam mengatur pergerakan. Keberadaan protokol kesehatan serta evaluasinya harus tetap terjamin baik kuantitas dan kualitasnya. Indonesia adalah negara besar yang lahir dari semangat kemerdekaan para pendiri bangsa yakni rakyat Indonesia. Semoga semangat itu tetap ada, walau dalam bentuk berbeda, yakni merdeka melawan penjajah kasat mata, COVID-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *